SELAMATAN POLO PENDEM TAHUN 2026 PERSAWAHAN DUSUN TRIMO KEMANTRENREJO
- May 22, 2026
- Saman Hisyam
- berita

KELOMPOK TANI MAKMUR SENTOSA 2 GELAR SELAMATAN POLO PENDEM DI SAWAH TRIMO KEMANTRENREJO
Kemantrenrejo, Rejoso,– Sebagai wujud syukur atas hasil panen dan memohon keberkahan untuk musim tanam berikutnya, Kelompok Tani Makmur Sentosa 2 Desa Kemantrenrejo menggelar Selamatan Polo Pendem pada Kamis, 21 Mei 2026.
Acara berlangsung khidmat di area Sawah Trimo, Dusun Trimo, dipimpin langsung oleh Bapak Suto sekretaris Kelompok Tani Makmur Sentosa 2
Doa Bersama untuk Hasil Bumi
Tradisi polo pendem atau selamatan hasil bumi yang tumbuh di dalam tanah seperti ketela, kacang, dan umbi-umbian ini rutin digelar petani Kemantrenrejo tiap akhir musim panen.
“Ini bentuk rasa syukur kami kepada Allah SWT atas rezeki dari bumi. Sekaligus doa bersama agar musim tanam depan diberi cuaca bagus, hama terkendali, dan hasil melimpah,” ujar Bapak Suto dalam sambutannya.
Dihadiri Pemdes dan Penyuluh Pertanian
Turut hadir dalam acara tersebut perwakilan Pemerintah Desa Kemantrenrejo, Bapak M. Sodik selaku Sekretaris Desa, mewakili Kepala Desa yang berhalangan hadir.
Hadir pula Bapak Saeran selaku POPT Kecamatan Rejoso, Tim BPP Rejoso, tokoh agama Ustadz Abdurrahim dari Segoropuro yang memimpin doa, perwakilan BUMDes Kemantrenrejo, serta puluhan petani anggota Kelompok Tani Makmur Sentosa 2.
Sekdes M. Sodik menyampaikan apresiasi atas kekompakan kelompok tani. “Pemdes mendukung penuh tradisi baik seperti ini. Semoga petani Kemantrenrejo makin sejahtera dan hasil panen makin berkualitas,” pesannya.
Bagi-bagi Hasil Bumi
Usai doa bersama, acara dilanjutkan dengan kenduri dan makan tumpeng bersama di pematang sawah. Para petani juga saling berbagi hasil polo pendem seperti ketela rebus, kacang tanah, dan tales sebagai simbol kebersamaan.
POPT Rejoso, Bapak Saeran, sekaligus memberikan penyuluhan singkat tentang pengendalian hama pada tanaman padi dan pentingnya rotasi tanam untuk menjaga kesuburan tanah.
Sekretaris Kelompok Tani, Bapak Suto, berharap kegiatan ini terus dilestarikan. “Selain menjaga tradisi, selamatan ini jadi ajang silaturahmi petani dan wadah diskusi langsung dengan penyuluh,” tutupnya.